Untuk Fans Budi Anduk

21:08 Heri Yansah 9 Comments

Nama : Budi Anduk (bernama asli Budi Prihatin)
Tempat/Tgl lahir : Jakarta, 8 Februari 1968
Pekerjaan : Aktor, Pelawak Indonesia.
Tahun aktif : 1996 s.d. sekarang ^^
Istri : Neneng Nurhayati

Rambut kribo, kulit hitam, pipi tembam, dan perut buncit, begitulah perawakan komedian Budi Handuk (40).
Tidak ganteng seperti seleb kebanyakan. Namun itu jadi kelebihan Budi di dunia hiburan. Peran dan tingkah Budi di Tawa Sutra XL mengocok perut pemirsa. Muka Budi yang lucu mampu menghilangkan stres setelah seharian bekerja.

Sepintas, Budi seperti berasal dari Indonesia Timur. Ternyata Budi orang Jawa asli. Ayahnya asal Purbalingga, ibunya asli Malang. “Katanya (ibunya-red) bapaknya orang Ambon. Tapi nggak tahu juga, Emak sudah pikun sih, ya. Namanya dulu zaman perang, (orang) hilang begitu saja. Tahu-tahu nggak ada kabarnya,” beri tahu Budi. Berbeda dengan wajah, jika berbicara, logat dan bahasa Budi kental Betawinya. “Karena terbawa lingkungan. Di daerah ane banyak orang Betawinya. Waktu tinggal di Mampang, berbaur dengan orang Betawi, pindah ke Pondok Gede juga banyak orang Betawinya,” ujar pemilik nama lengkap Budi Prihatin ini.

Budi mengenal dunia hiburan melalui Patrio. Kebetulan Budi tinggal satu wilayah dengan Parto. “Saya bertetangga dengan Mas Parto,” ujar Budi. Karena sering bertandang ke rumah Parto, Budi diajak membantu Patrio. “Tahun 1996 saya jadi krunya Patrio. Tugas saya mengumpulkan penonton, kasih makan penonton, pokoknya jadi tim belakangan layarnya Patrio,” cerita pria kelahiran Bekasi, 8 Februari 1968 ini. Setelah beberapa lama mendukung Patrio, Budi sesekali diajak main menjadi figuran. “Ya meski hanya cameo atau figuran, saya belajar banyak tentang lawakan. Proses saya belajar melawak dimulai dari sana. Saya jadi tahu apa itu pengumpan dan bagaimana harus mengembangkan lawakan yang diumpan,” kata Budi, yang juga bermain layar lebar Tiren ini.

Di Patrio juga, embel-embel “Handuk” melekat di belakang nama Budi. “Saya kan orangnya mudah berkeringat. Jadi supaya tidak ke mana-mana itu keringat, saya selalu bawa handuk di leher. Karena itu saya dipanggil Budi Handuk,” terang Budi.

Sebelum menjadi kru Patrio, kehidupan Budi tidak menentu. Budi mengaku menyia-nyiakan masa mudanya. “Waktu kecil saya sama seperti anak lainnya, dibilang bangor nggak tapi dableknya, minta ampun,” aku Budi, yang pernah mendukung sinetron Cape Deh dan Tulalit ini. Sifat dablek Budi bawa hingga remaja. “Bukannya kerja, malah nyantai. Saya banyak menganggur, banyak nggak punya duitnya, hahaha. Malah Emak yang kerja. Makan atau mau apa minta sama Emak. Makanya sekarang saya sayang banget sama Emak. Merasa sudah merepotkan emak,” tutur Budi. Beruntung timbul penyesalan di hati Budi. Sekitar 1991, Budi mengubah diri, terutama sifatnya. Budi ingin lebih bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya. “Tahun 1991-an berpikir, ingin juga kerja. Selain itu ada beban juga, apalagi keluarga sudah pindah ke Bekasi semua. Saya sendirian harus survive, harus hidup. Sayangnya kepikiran setelah saya dewasa. Harusnya ‘kan dari muda saya sudah sadar,” papar Budi. Penyesalan Budi belum terlambat. “Untuk menebus dosa sama Emak, sekarang Emak ikut saya. Saya yang mengurus Emak. Selama ini saya menyusahkan Emak,” kata Budi.

9 comments:

Ternyata Meninggalkan Komentar Adalah Sebagian Dari Cara Meningkatkan PageRank :)